Kamis, 22 Oktober 2015

Pembangunan Peternakan



Permasalaan Pembanguna Peternakan

Pembangunan peternakan merupakan bagian pembangunan nasional yang  sangat penting, karena salah satu tujuan pembangunan peternakan adalah peningkatan  kualitas sumberdaya manusia yang unggul. Selain itu, tujuan pembangunan  peternakan adalah meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan peternak, pelesatarian  lingkungan hidup serta peningkatan devisa negara.  Kondisi peternakan di Indonesia telah mengalami pasang surut. Sejak  terjadinya krisis ekonomi dan moneter tahun 1997, telah membawa dampak  terpuruknya perekonomian nasional, yang diikuti penurunan beberapa usaha  peternakan. Dampak krisis secara bertahap telah pulih kembali dan mulai tahun 1998- 1999 pembangunan peternakan telah menunjukkan peningkatan. Kontribusi  peternakan terhadap PDB pertanian terus meningkat sebesar 6,35% pada tahun 1999.  Bahkan tahun 2002 meningkat mencapai 9,4% tertinggi diantara sub sektor pertanian.  Peran strategis peternakan juga berkaitan dengan penanggulangan  kemiskinan. Pemerintah telah menetapkan tiga sasaran utama program  penanggulangan kemiskinan, yakni; menurunnya persentase penduduk yang berada di  bawah garis kemiskinan menjadi, terpenuhinya kecukupan pangan yang bermutu dan  terjangkau, dan terpenuhinya pelayanan kesehatan yang bermutu.  Pembangunan peternakan tidak terlepas dari berbagai masalah dan tantangan.
Globalisasi ekonomi merupakan salah satu ancaman dan sekaligus peluang bagi sektor peternakan. Menjadi ancaman jika Indonesia tetap menjadi importir input dan  teknologi peternakan untuk menggerakkan proses produksi dalam negeri dan untuk  memenuhi kebutuhan yang tidak dapat dipenuhi dalam negeri. Ketergantungan pada  impor jika tidak ditunjang oleh usaha-usaha kemandirian yang produktif, akan  mendorong ketergantungan semakin sulit dipecahkan. Indonesia mempunyai peluang  untuk mengisi pangsa pasar dunia karena Indonesia dianggap sebagai negara  produsen yang aman karena produk ternak yang masih murni dan bebas dari penyakit  mulut dan kuku. Berdasarkan Statistik Peternakan 2005 ekspor Indonesia mengalami  pertumbuhan sebesar 17% per tahun  Dalam sisi dalam negeri yang menjadi penghambat tumbuhnya sektor
peternakan, antara lain:
1.       Struktur industri peternakan sebagian besar tetap bertahan dalam bentuk  usaha rakyat. Yang dicirikan oleh tingkat pendidikan peternak rendah,  pendapatan rendah, penerapan manajemen dan teknologi konvesional,  lokasi ternak menyebar luas, ukuran usaha relatif kecil, serta pengadaan  input utama yakni HMT (Hijauan Makanan Ternak) yang masih tergantung  pada musim, ketersediaan tenaga  keluarga, serta penguasaan lahan HMT  yang terbatas.
2.       Ketersedian bibit bermutu. Penelitian tentang pembibitan telah banyak  dilakukan namun belum tersosialisasikan dalam skala besar. Terjadi  kegagalan komunikasi baik Badan Litbang maupun Perguruan Tinggi.  Selain itu, peternak tidak mempunyai insentif dalam mengadopsi teknologi  baru yang disertai peningkatan biaya.
3.      Masalah agroindustri peternakan yang belum mampu menggerakkan sektor  peternakan. Misalnya, industri pengolahan susu, sebgaian besar  menggunakan input dari negara asal. Industri perhotelan membutuhkan  daging dari impor.
4.      Derasnya impor illegal produk-produk peternakan
5.       Bencana penyakit (mewabahnya virus flu burung dan antraks)
6.      Ketergantungan yang tinggi terhadap bahan baku pakan

Dengan segala keterbatasan peternak, perlu dikembangkan sebuah sistem  peternakan yang berwawasan ekologis, ekonomis, dan berkesinambungan. Yaitu
dengan mengembangkan peternakan industri dan peternakan rakyat yang dapat  mewujudkan ketahanan pangan dan mengantaskan kemiskinan. Selain itu para  peternak juga harus memperhatikan 3 aspek agar usaha peternakan mereka dapat
berjalan dengan baik yaitu:
1.       Aspek Manajemen Pemeliharaan yaitu tidak memperhitungkan  kualitas dan kuantitas pakan, tidak ada sumber air untuk minum, tidak  ada control dan pengobatan penyakit, tidak ada sarana perkandangan  yang memadai (kapasitas tampung dan peralatan kandang), tidak ada  eksplorasi daya dukung lahan penghasil limbah pertanian,
2.       Aspek Pengetahuan yaitu tidak ada penyuluhan berkala di kelompok  oleh dinas terkait, tidak ada program pemberdayaan peternak baik dari  kelompok maupun dari luar kelompok .
3.      Aspek Genetis yaitu kenyataan dari generasi ke generasi performa  ternak terjadi penurunan, tidak ada kartu recording untuk data  kelahiran, sapih maupun produksi, tidak ada pengaturan perkawinan,  tidak ada seleksi untuk memilih bibit yang baik

Masalah ekonomi merupakan masalah yang sangat penting bagi setiap  manusia. Karena permasalahan ekonomi merupakan problema yang menyangkut pada  kesejahteraan dan pemenuhan kebutuhan hidup orang banyak. Berbagai cara/strategi  bertahan hidup dilakukan untuk dapat mempertahankan kelangsungan hidupnya.  Kondisi bangsa Indonesia yang sedang berat dalam mengatasi krisis di setiap  elemen, bangsa Indonesia dihadapkan tidak hanya pada satu masalah saja melainkan  berbagai masalah seperti ekonomi, sosial, budaya, pendidikan, dan lain-lain. Dimana  masalah tersebut sudah rumit, sehingga mengharuskan orang untuk benar-benar siap  dan membutuhkan waktu yang cukup panjang untuk dapat menyelesaikannya. Untuk  mengatasi salah satu permasalahan tersebut terutama masalah ekonomi yang  menyangkut pemenuhan kebutuhan hidup, dibutuhkan pekerjaan yang cukup untuk  membiayai/mencukupi kebutuhan hidup yang semakin banyak. 

Peluang Bidang Peternakan di Indonesia

 Jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2025 diperkirakan mencapai 273,7 juta jiwa. Demikian dikatakan Menteri Negara Perencanaan Pembangunan/Kepala Bappenas saat menyebutkan proyeksi penduduk Indonesia tahun 2000-2025 (Kompas, 3/8/2005). Dengan jumlah penduduk sebesar itu Indonesia merupakan pasar yang luar biasa besar. Namun sayangnya, kita masih sangat tergantung pada bahan impor. Setiap tahun Indonesia mengimpor sapi hidup sebanyak 450 ribu ekor dari Australia. Setiap tahun negara agraris ini mengimpor 1 juta ton bungkil kedele, 1,2 juta ton jagung, 30 ribu ton tepung telur dan 140 ribu ton susu bubuk. Importasi bahan pangan tersebut menguras devisa negara cukup besar.
Sebagai negara dengan jumlah penduduk terbesar keempat negara di dunia, Indonesia termasuk pasar potensial bagi negara-negara lain. Produksi dalam negeri belum mampu memenuhi kebutuhan konsumsi produk peternakan. Hal ini merupakan tantangan besar dalam penyediaan bahan pangan hewani sebagai sumber protein yang dibutuhkan oleh masyarakat. Saat ini konsumsi protein hewani penduduk Indonesia masih sangat rendah yakni 4,5 gram/kapita/hari, sementara konsumsi protein hewani masyarakat dunia adalah 26 gram/kapita/hari (Han, 1999). Peningkatan konsumsi protein hewani dapat dipacu dengan meningkatkan pendapatan rumahtangga dan kesadaran gizi masyarakat. Untuk memicu pertumbuhan subsektor peternakan masih dijumpai beberapa permasalahan. Pada industri unggas penyediaan bibit dan pakan masih tergantung impor. Pada industri ruminansia besar, sumber bibit yang menghandalkan usaha peternakan rakyat tidak mampu memenuhi permintaan yang terus meningkat, dan industri pakannya belum diusahakan dengan baik. Terbatasnya infrastruktur dan perdagangan ternak hidup tanpa kendali berpeluang penyebaran penyakit dan tidak terjaminnya kualitas dan keamanan produk. Dari sisi konsumsi, terjadi senjang penawaran dan permintaan, khususnya pada daging sapi sehingga harus dipenuhi dari impor. Di sisi lain, kapasitas produksi ayam ras masih mampu ditingkatkan lagi, hanya permintaannya sangat tergantung pada daya beli konsumen, kualitas gizi dan keamanan produk. Semuanya itu merupakan peluang yang harus dimanfaatkan. Untuk mengatasi permasalahan diperlukan strategi pembangunan yang fokus pada sasaran yang tepat. Fokus sasaran meliputi komoditas dan wilayah yang akan dikembangkan.
Kebutuhana konsumen terhadap produk peternakan sangat tinggi terutama daging sapi, ini dapat dilihat dari kebutuhan akan produk peternakan jika dilihat dari pangsa konsumsi, sekitar 48,3% daging yang dikonsumsi adalah daging unggas, 26,1% daging sapi, dan sisanya terdiri dari daging jenis ternak lain. Ini berarti selera konsumen terhadap daging sapi cukup potensial. Dengan pertumbuhan penduduk yang meningkat rata-rata 1,5% per tahun dan pertumbuhan ekonomi meningkat dari 1,5% sampai 5,0% pada tahun 2005, diperkirakan konsumsi daging sapi akan meningkat dari 1,9 kg/kapita/tahun menjadi 2,8 kg/kapita/tahun pada tahun 2005. Jika dikaitkan dengan ketentuan Pola Pangan Harapan, seharusnya konsumsi daging masyarakat Indonesia sebanyak 10,1 kg/kapita/tahun. Ini berarti dari sisi permintaan masih cukup potensial untuk ditingkatkan. Peningkatan permintaan terhadap produk peternakan membuka peluang bagi pengembangan usaha peternakan lokal dengan skala agribisnis melalui pola kemitraan.
Sistem agribisnis peternakan merupakan kegiatan yang mengintegrasikan pembangunan pertanian, industri, dan jasa secara simultan dalam suatu kluster industri yang mencakup empat subsistem, yaitu subsistem agrisbisnis hulu, subsistem agribisnis budi daya, subsistem agribisnis hilir, dan subsistem jasa penunjang. Kemitraan merupakan kegiatan kerja sama antarpelaku agribisnis mulai dari tingkat praproduksi, produksi hingga pemasaran, yang dilandasi azas saling membutuhkan dan menguntungkan di antara pihak-pihak yang bekerja sama, dalam hal ini perusahaan dan petani-peternak untuk saling berbagi biaya, risiko, dan manfaat. Untuk meningkatkan peran hasil ternak sebagai sumber pemasok bahan pangan hewani dan pendapatan peternak, disarankan untuk menerapkan sistem pemeliharaan secara intensif dengan perbaikan manajemen pakan, peningkatan kualitas bibit yang disertai pengontrolan terhadap penyakit. Perbaikan reproduksi khususnya dilakukan pada sapi potong yakni dengan IB dan penyapihan dini pedet untuk mempersingkat jarak beranak. Untuk memperbaiki mutu genetik, sapi bakalan betina diupayakan tidak keluar dari daerah pengembangan untuk selanjutnya dijadikan induk melalui grading up. Peningkatan minat dan motivasi peternak untuk mengembangkan usahanya dapat diupayakan melalui pemberian insentif dalam berproduksi.



DAFTAR PUSTAKA


Ditjenak (Direktorat Jenderal Peternakan). 2006. Statistik Peternakan Tahun2005.Ditjenak, Jakarta.

HIPAPI. 2006. Ayam Pelung. Himpunan Peternak Ayam Pelung, Bandung.Ilham, N. 2006. Analisa sosial ekonomi dalam rangka pencapaian swasembada daging2010. Paper dipresentasikan pada whorkshop ”Strategi pencapaian kecukupan daging2010”, Juli 2006, Bogor. Direktorat Ruminansia, Ditjenak, Jakarta. Unpublished.

Kementerian Negara Ristek-RI. 2006. Buku Putih : Penelitian Pengembangan danPenerapan IPTEK Bidang Pangan Tahun 2005 – 2025. Kementerian Negara Ristek-RI,Jakarta.

PPSKI (Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia). 2007. Kesiapan Peternak danIndustri Peternakan dalam Pelaksanaan PKD (Program Kecukupan Daging) 2010.

Paper disampaikan dalam Pertemuan ”Sumbangan ISPI pada PKD 2010”, Januari2007”. Sekretaris Ditjenak, Jakarta. Unpublished.

Talib, C. 2006. Langkah strategis untuk pencapaian swasembada daging sapi padatahun2010. Paper dipresentasikan pada whorkshop ”Strategi pencapaian kecukupan daging2010”, Juli 2006, Bogor. Direktorat Ruminansia, Ditjenak, Jakarta.Unpublished.

Talib.C. 2007. Model Pengembangan Kawasan Agribinis Sapi Potong. Paper dipresentasikan dalam workshop ”Pembangunan Agribisnis Sapi Potong dalam menunjang PKD (Program Kecukupan Daging) 2010”.Bogor, Januari 2007. PusatPenelitian Pengembangan Peternakan, Bogor.

Tangenjaya, B. dan A. Djajanegara. 2002. Peternakan Indonesia tahun 2020: Suatu Visi.Agriculture and Rural Development Strategy Study, ADB – 3843.

Artikel Ekonomi Nusantara, edisi jum’at 08 Mei 2009. ( Konsumsi Daging di Indonesia  Rendah) / (cha/JPNN).